Tata Martadinata, Jemaat Ahmadiyah Berprestasi Mengembangkan QRIS

Penulis: Ramadhan Wibisono

Independen.id  --  Siapa tidak mengenal QRIS? Mayoritas masyarakat Indonesia sering menggunakan QRIS (dibaca kris bukan kyuris). Alat pelunasan digital tersebut berkembang pesat mencapai puluhan juta pengguna hanya butuh empat tahun sejak pertama kali diluncurkan tahun 2019. Semua penyedia jasa pembayaran (PJP) di Indonesia hingga kini wajib menggunakan QRIS.

Reza Yoanda, supervisor restoran di Tangerang Selatan mengaku penggunaan QRIS memudahkan transaksi di restoran tempatnya bekerja. Selain itu, dengan QRIS jadi lebih variatif melengkapi pembayaran uang tunai dan kartu debit maupun kredit. Pria berkaca mata ini menambahkan, mayoritas konsumennya menggunakan QRIS. “Di restoran ini digunakan QRIS sudah 3,5 tahun. Penggunaan QRIS agar lebih fleksibel tidak monoton cash dan debit. QRIS mempermudah konsumen bayar input nominal scan selesai. Jadi 80 persen konsumen di restoran ini menggunakan QRIS,” ujar Reza baru-baru ini.

Pendapat serupa disampaikan Noviyanti, kasir toko perlengkapan bayi di Tangerang Selatan. Saat dirinya bergabung sebagai kasir tahun 2024, QRIS sudah digunakan di toko tempatnya bekerja. Pemakaian QRIS mempermudah pembayaran karena tidak perlu cari uang kembalian. “Saya gabung jadi kasir 2024, di toko ini sudah digunakan QRIS. Dengan QRIS, pembayaran lebih mudah. Saya tidak ribet cari uang kembalian,” ujar wanita berhijab ini.

Masyarakat yang menjadi konsumen merasakan lebih praktis memakai QRIS dibanding cara pembayaran sebelumnya. Salah satunya Dirga, yang mengaku lebih sering menggunakan QRIS. Dirga berharap semua layanan publik memfasilitasi pengguna QRIS. “Saya memakai QRIS lebih simple karena sekarang hampir semua tenant atau outlet menerima cashless. Bagi pelayanan publik yang hanya menerima pembayaran tunai atau kartu debit dan kredit, sebaiknya dilengkapi fasilitas QRIS,” tutur Dirga.

Pengalaman tidak jauh berbeda dirasakan Muhammad Faiz. Pria yang disapa Faiz ini memakai QRIS sejak tahun 2023 karena pembayaran lebih mudah. “Saya memakai QRIS sejak 2023. Saya semula melihat orang lain lebih simple memakai QRIS. Saya akhirnya ikut coba pakai QRIS hingga ketagihan sampai sekarang apalagi saya beberapa waktu terakhir jarang pakai uang cash karena pakai QRIS lebih mudah pembayaran,” ucap Faiz.

Siapa sangka di balik pengembangan QRIS, ada satu sosok yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Dia adalah Tata Martadinata, Kepala Produk dan Teknologi Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) yang turut berperan mengembangkan kemudahan pembayaran digital dengan QRIS bersama Bank Indonesia. Tata merupakan salah satu jemaat Ahmadiyah berprestasi yang memberikan kontribusi memajukan perekonomian Indonesia.

 

Legalitas dan Tujuan QRIS

Legalitas penggunaan QRIS diatur melalui Peraturan Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia Nomor 3 Tahun 2025. Mengutip website resmi Bank Indonesia https://www.bi.go.id, QRIS adalah Quick Response Code Indonesia Standard yaitu standar nasional pembayaran digital yang dikembangkan Bank Indonesia bareng ASPI. Keduanya juga ketat mengawasi penggunaan QRIS.                                                                                      

picture 1
Keterangan: Agar lebih dikenal dan cepat digunakan publik, sosialisasi QRIS mengusung slogan UNGGUL yaitu Universal, Gampang, Untung, Langsung (Sumber: Bank Indonesia)

 

Tata menjelaskan, setelah lolos uji coba yang ketat, QRIS resmi diluncurkan perdana 17 Agustus 2019, tepat perayaan ulang tahun ke-74 kemerdekaan Republik Indonesia. Selanjutnya QRIS menjadi sarana pembayaran wajib per 1 Januari 2020. Tujuan QRIS mewujudkan inovasi digitalisasi pembayaran lebih efisien, nyaman, serta mudah diakses seluruh lapisan masyarakat Indonesia. “2017 mulai tumbuh pembayaran berbasis QR code di Cina dan India kemudian masuk Indonesia melalui go pay dan OVO. Dari sana, kami dari ASPI dipanggil Bank Indonesia untuk menyiapkan QRIS membentuk working group pada 2018 hingga akhirnya launching perdana 17 Agustus 2019 lalu jadi pembayaran wajib per 1 januari 2020. Di Indonesia, QRIS tujuannya digitalisasi sistem pembayaran tidak hanya pengusaha besar dan menengah tapi pedagang mikro dengan memindahkan cash bukan mengganti sistem pembayaran saat itu seperti kartu debit maupun kredit,” jelas Tata belum lama ini.

Pria kelahiran Belitung Timur ini masuk ASPI sejak 2017. ASPI berperan sebagai lembaga standar nirlaba yang dibentuk Bank Indonesia tahun 2010. ASPI fokus mengatur regulasi industri atau self regulated organization dan memberikan verifikasi ataupun sertifikasi kepada penyedia jasa pembayaran. “Saya gabung ASPI sejak 20217. Peran ASPI sebagai lembaga standar atau organisasi nirlaba yang dibentuk Bank Indonesia tahun 2010 fokus pada pengaturan industri. Saat penggunaan kartu kredit dan debit, kita punya standar yang dikembangkan ASPI. Jadi sebelum QRIS, ASPI sudah berjalan. Vendor kartu pembayaran di Indonesia harus mendapat verifikasi atau sertifikasi dari ASPI. Saya bersama ASPI mengembangkan QRIS fitur scan dan tap di tingkat nasional hingga mancanegara,” ujar Tata.

Sebelum kemunculan QRIS, sistem pembayaran digital Indonesia dipenuhi fragmentasi. Setiap Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) memiliki QR code berbeda sehingga tidak efisien bagi konsumen maupun pelaku usaha. Menyikapi kompleksitas itu, Bank Indonesia menggandeng ASPI menerapkan langkah strategis menyatukan berbagai format QR dalam satu sistem standar nasional. Kolaborasi Bank Indonesia-ASPI menghasilkan QRIS solusi utama mempermudah transaksi sekaligus pondasi penting pembangunan ekonomi digital nasional.

Tata mengakui sempat menemui kendala saat awal sosialisasi QRIS. Karena belum terbiasa, sebagian orang merasa ribet beralih dari uang tunai ataupun kartu lalu menggunakan QR code via ponsel. Tapi sekarang seiring gencarnya sosialisasi, jumlah pengguna QRIS melonjak signifikan.

“Awal pengembangan QRIS sempat terkendala ribet bayar pake scan ponsel. Sebagian orang biasa transaksi pake kartu sekali transaksi Rp300 ribu sampai Rp500 ribu tapi sekarang melayani pembeli gado-gado Rp15 ribu pakai QRIS. Saya tidak bawa uang tunai mau ke kantin cukup bawa ponsel. Pengguna QRIS meningkat lumayan banyak hanya daftar seperti buka rekening bank kemudian verifikasi lalu pasang kode QR di tokonya. Bagi pedagang mendapat barcode QRIS cukup mudah hanya daftar ke bank atau nonbank. ASPI akan mengatur tampilannya dan cara transaksi. Sedangkan Bank Indonesia atur perizinan,” tutur Tata.

Berdasarkan pertemuan tahunan Bank Indonesia di Jakarta, 28 November 2025, jumlah pengguna QRIS hingga Oktober 2025, ada 58,3 juta dari target 58 juta termasuk 41,19 juta merchant, mayoritas pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM). Pengguna QRIS terbanyak di Pulau Jawa mencapai 40 juta yang diikuti Sumatra (10,2 juta), Sulawesi, Maluku, dan Papua (3,3 juta), Kalimantan (2,9 juta) serta Bali-Nusa Tenggara (1,9 juta). Semakin populer QRIS menunjukkan tingginya manfaat akselerasi digitalisasi sistem pembayaran yang mendukung pertumbuhan ekonomi inklusif berkelanjutan.                                                                                                                               

tabel
Keterangan: Hingga Oktober 2025, ada 58,3 juta pengguna QRIS. Mayoritas penggunanya di Pulau Jawa mencapai 40 juta (Sumber: Bank Indonesia)

     

Setelah sukses dalam negeri, Bank Indonesia menggandeng ASPI menerapkan QRIS ke mancanegara. Kehadiran QRIS di luar negeri akan mempermudah wisatawan atau pebisnis Indonesia bertransaksi. Saat ini, QRIS bukan hanya digunakan pada pembayaran toko offline kelas atas tapi juga pengusaha mikro kecil menengah, termasuk pedagang kaki lima maupun toko kelontong. Bahkan QRIS merambah transaksi daring hingga terintegrasi berbagai layanan keuangan lainnya. Selain itu, QRIS pun dimanfaatkan saat aktivitas sosial seperti donasi di tempat ibadah.

          

Tata Gabung Ahmadiyah Sejak SMA

Tata Martadinata menjadi jemaat Ahmadiyah bukan sejak lahir atau warisan orang tua. Meskipun sempat terjadi pergulatan batin, pria keturunan Tionghoa dan Sunda ini akhirnya memutuskan bergabung Ahmadiyah sejak menyenyam pendidikan sekolah menengah atas di Tangerang. Pihak keluarga pun tidak keberatan dengan keputusan Tata. “Saya bukan lahir sebagai jemaat Ahmadiyah. Saya gabung Jemaat Ahmadiyah Indonesia sejak pelajar SMA. Meski sempat terjadi pergulatan batin, pihak keluarga tidak keberatan,” cerita Tata.

Ahmadiyah berkembang di Indonesia sejak tahun 1925 yang disebut Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI). Ajaran yang digagas oleh Mirza Gulam Ahmad dari India ini masuk pertama kali ke Aceh. Hingga kini, pemerintah melegalkan alias tidak melarang Ahmadiyah sebagai keyakinan individu dan organisasi yang memiliki badan hukum namun segala kegiatannya dibatasi ataupun diawasi secara ketat. Perjalanan panjang 100 tahun Ahmadiyah di Tanah Air tidak lepas dari diskriminasi maupun persekusi.

Berulang kali para jemaat Ahmadiyah di sejumlah daerah menerima perlakuan negatif tersebut sehingga mereka cenderung hidup dalam kecemasan dan ketidakpastian. Meskipun keberadaan Ahmadiyah diselimuti polemik bahkan penolakan, tidak mematahkan semangat Tata Martadinata. Pria kelahiran tahun 1974 ini tidak semakin terpuruk tapi justru berbuat positif bagi masyarakat mengembangkan QRIS.

Menyikapi perilaku diskriminatif hingga persekusi yang sering dialami jemaat Ahamdiyah, Tata menyarankan jangan terpuruk. Alumni S-2 Ilmu Komunikasi ini pernah mengalami persekusi. “Motor saya dirusak saat demo Ahmadiyah. Saat kerusuhan massal 1998 saya juga mengalami persekusi karena dicap Tionghoa. Persekusi kadang dipicu komunikasi kurang baik. Kalau memikirkan orang membenci kita tidak bakal selesai. Masih banyak orang mendukung dan menyukai kita. Tidak semua masalah perlu didebatkan. Gunakan waktu kita tetap berbuat kebaikan. Apa yang saya lakukan misalnya donasi bantu warga sedangkan kegiatan massif adalah karya kita bermanfaat bagi banyak pihak,” saran Tata.

Lebih lanjut Tata menuturkan, dirinya sering memotivasi jemaat Ahmadiyah lainnya terutama generasi muda selalu semangat berkarya jangan putus asa. Lulusan S-1 Manajemen ini mengajak para jemaat Ahmadiyah segera bangkit pantang menyerah memberikan kontribusi positif. Banyak ajaran JAI menganjurkan jemaat harus berkontribusi. “Semua pengembangan yang saya lakukan sebagai kontribusi jemaat Ahmadiyah. Saya dekat dengan tokoh senior JAI jadi direktur perusahaan dan staf ahli wakil presiden. Dari sana saya lihat kontribusi JAI ingin berkarya untuk negaranya. Saya mendorong teman-teman JAI terutama generasi muda harus berkarya apapun yang terjadi. Ada beberapa kegiatan sesama JAI di antaranya saya ikut pengembangan website resmi pertama JAI. Saya juga sering diminta jadi motivator anak-anak muda yang ingin tahu perkembangan digital. Saya paham digitalisasi ekonomi jadi saya sharing. Kemampuan teknologi kita bisa bermanfaat bagi orang lain,” lanjut Tata yang pernah menyusun jurnal ilmiah bertema religi.                                                                                                            

Tata mengajak siapapun yang ingin berhasil sebaiknya mengikuti pergerakan zaman. Setiap ada perkembangan teknologi atau model bisnis baru harus segera dipelajari. “Kita harus cepat belajar. Kita tidak mungkin menguasai semua hal tapi sebaiknya menekuni bidang yang kita sukai dengan maksimal. Yakinlah jika serius satu bidang atau beberapa bidang yang kita kuasai akan ada peluang memajukan ekonomi diri sendiri dan membantu orang lain atau melakukan perubahan lebih baik bagi masyarakat luas,” kata Tata yang sering menjadi pembicara talk show inspiratif off air maupun on air media massa.

Dalam waktu dekat Tata bersama ASPI bareng Bank Indonesia berencana memperbanyak penempatan QRIS di area kuliner dan melengkapi transportasi publik hingga bisnis ritel dengan QRIS Tap berbasis NFC (Near Field Communication) sehingga transaksi lebih cepat hanya menempelkan ponsel. “Kita juga akan mengembangkan teknologi berbasis block chain dan biometrik,” ujar Tata. 

 

kali dilihat