Penulis : Ramadhan Wibisono
Independen.id - Berdasarkan survei Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2020 menunjukkan hanya 10% penduduk Indonesia yang rajin membaca buku. Angka ini menunjukkan minat literasi masyarakat tergolong rendah.
Meskipun ada peningkatan minat baca mencapai 72,44% sesuai survei BPS tahun 2024, tingkat literasi masyarakat Indonesia perlu perhatian khusus. Apalagi menurut hasil studi PISA (Programme for International Student Assessment) tahun 2022, skor domain membaca Indonesia hanya 359 poin, skor terendah yang pernah diperoleh Indonesia sejak 2006.
Hasil studi PISA tersebut seolah menjadi cambuk bagi pemerintah dan semua pihak meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. Ada beberapa faktor menjadi sebab rendahnya minat literasi di Indonesia.
Pertama adalah aksesibilitas. Terbatasnya akses masyarakat terhadap sumber literasi seperti perpustakaan, buku, dan media cetak merupakan salah satu faktor utama. Di pedesaan dan kalangan masyarakat kurang mampu, sumber literasi sering sulit dijangkau.
Kedua adalah tingkat kualitas pendidikan di Indonesia mempengaruhi minat literasi. Ketidaksetaraan pendidikan dan kurangnya fasilitas pendidikan yang memadai cendrung menurunkan minat literasi.
Ketiga, faktor penggunaan teknologi digital mempengaruhi minat membaca seseorang. Meskipun perkembangan teknologi telah meningkatkan aksesibilitas informasi, penggunaan media sosial ataupun hiburan digital yang tidak tepat dan berlebihan berpotensi mengurangi minat membaca buku hingga sumber literasi lainnya.
Keempat adalah budaya membaca di Indonesia yang kurang mendukung juga mempengaruhi minat literasi. Jika membaca buku tidak dianggap penting atau prestisius maka minat literasi menurun.
Minat literasi masyarakat sangat penting. Literasi adalah kunci mengakses informasi. Dengan meningkatkan minat literasi, masyarakat dapat memperluas pengetahuan dan memperbaiki kualitas hidup. Rajin membaca juga membantu mengembangkan kemampuan berpikir seseorang. Literasi berperan mendukung individu berpartisipasi dalam kehidupan sosial, politik, dan ekonomi. Tingkat minat literasi yang tinggi akan memberikan masyarakat kemampuan untuk berkontribusi secara lebih aktif dan berdaya saing dalam berbagai aspek kehidupan.
Dari sisi ekonomi, literasi berperan penting dalam pembangunan ekonomi. Masyarakat yang memliki literasi lebih baik memiliki peluang kerja lebih tinggi, dapat berwirausaha, dan berpartisipasi dalam ekonomi kreatif hingga meghasilkan inovasi.
Minat literasi di Indonesia masih memiliki potensi ditingkatkan. Penting bagi pemerintah, lembaga pendidikan, hingga masyarakat bekerja sama meningkatkan minat literasi. Langkah-langkah meningkatkan aksesibilitas sumber literasi, meningkatkan kualitas pendidikan, hingga mempromosikan budaya membaca bisa membantu meningkatkan minat literasi dan memberikan manfaat jangka panjang bagi seseorang. Dengan minat literasi lebih tinggi, Indonesia dapat meraih kemajuan lebih besar dalam berbagai bidang.
Kepedulian meningkatan literasi di Indonesia, menggugah Michelle Kezia. Mahasiswi Semester 2 Universitas Negeri Jakarta ini prihatin minat baca masyarakat Indonesia masih kurang, termasuk generasi muda. Michelle melihat sebagian anak muda di sekitarnya belum menganggap membaca sebagai kegiatan menyenangkan dan menginspirasi.
Menyikapi kondisi ini, Michelle membentuk komunitas Book Buddies sejak kelas 2 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Tujuannya meningkatkan literasi sekaligus mewujudkan membaca buku lebih mudah diakses semua orang terutama anak-anak dengan cara menyenangkan.
“Aku penasaran bagaimana caranya kita mengenalkan buku. Aku merasa aksesibilitas memperoleh buku masih kurang bahkan harganya juga mahal. Sejak kelas 2 SMK Semester 2 di Jakarta, aku semangat bikin komunitas berisi orang-orang suka baca buku. Awalnya bikin Book Buddies misi kita bikin literasi dan baca buku lebih mudah diakses semua orang,” ujar Michelle.
Beragam Aktivitas Book Buddies Dilakukan Online dan Offline
Saat perekrutan anggota Book Buddies, Michelle membuka pendaftaran daring sekitar Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Hingga kini, Book Buddies masih regenerasi anggota. Tercatat akhir 2025 atau semester ganjil, anggota Book Buddies mencapai 80 orang tersebar di Jabodetabek. Kebanyakan aktivitas Book Buddies dilakukan secara online dengan zoom meeting sebulan sekali.
Tapi Book Buddies juga punya beragam aktivitas offline. Salah satunya mengunjungi panti asuhan sekali sampai dua kali setiap enam bulan (per semester) sambil donasi buku, membaca buku bersama, hingga diskusi buku, dan mengadakan permainan menarik. Saat merancang acara offline, anggota Book Buddies zoom meeting sepekan sekali.
“Aku mulai Book Buddies awalnya cuma berdua temen sekelas. Kita open recruitment secara daring siapa mau gabung Book Buddies. Aktivitas Book Buddies sering secara online supaya tidak menganggu kegiatan pribadi sehari-hari karena mayoritas anggotanya masih pelajar dan mahasiwa,” tutur Michelle.
Michelle menambahkan, saat kegiatan daring, Book Buddies melakukan kampanye membuat instastory di instagram mengajak teman-teman sesama anggota mendonasikan buku favorit, kemudian pelatihan menulis, serta lomba literasi. Bila memanfaatkan waktu offline, tidak hanya kunjungan panti asuhan dan gathering rutin anggota, Book Buddies juga mengadakan program taman baca. Target peserta Book Buddies meliputi anak-anak hingga dewasa untuk meningkatkan literasi atau minat baca.
“Selama program taman baca, kita di taman menyediakan buku-buku bagi siapapun peminat baca. Kegiatan offline lainnya kita rutin kunjungan panti asuhan tiap semester. Tapi semester genap ini enam bulan ke depan kita berencana kunjungan sekolah-sekolah,” ujar Michelle.

Lebih lanjut, Michelle menuturkan, buku-buku yang didonasikan ke panti asuhan dan sekolah maupun digunakan pada program taman baca diperoleh melalui kiriman masyarakat umum melalui open online donation. masyarakat umum. Begitu pula dana untuk kunjungan diterima dari donasi publik. Sedangkan budget gathering pertemuan rutin anggota secara offline menggunakan dana pribadi tiap anggota.
“Budget gathering anggota bayar sendiri tapi saat kunjungan Book Buddies memakai dana kas organisasi sekaligus donasi publik alias fully online open donation. Kita kadang fund raising menjual juga barang koleksi pribadi kita untuk mengumpulkan dana. Sedangkaan buku-buku donasi dari masyarakat dikirim ke rumah aku kemudian aku seleksi buku yang layak sebelum didonasikan,” tutur Michelle.
Selain Jabodetabek, Book Buddies pernah mengadakan acara offline di Bandung dan Surabaya. Michelle berharap pada semester genap selama enam bulan mendatang di tahun 2026, semua aktivitas Book Buddies secara offline ataupun online berjalan lancar dan berdampak positif bagi masyarakat luas, terutama anak-anak. Bahkan rencananya, Michelle menggagas donasi buku dan diskusi buku membahas isu peduli kebersihan lingkungan sekalian antisipasi perubahan iklim. Pasalnya, kedua isu tersebut belum pernah dibahas dan erat kaitannya dengan kondisi kehidupan sehari-hari saat ini hingga masa mendatang.
Sebagai penutup kegiatan offline semester ganjil pada 6 Desember 2025, Book Buddies mengunjungi Panti Asuhan Domyadhu (Dompet Yatim Dhuafa) Lubang Buaya, Jakarta Timur. Selama mengunjungi Domyadhu, Book Buddies menggelar berbagai kegiatan menarik dari mendonasikan buku ke anak-anak panti asuhan dan mengajak baca buku bersama kemudian story telling membahas buku yang dibaca lalu santap kuliner bareng hingga mengadakan permainan seru.
Beberapa bulan sebelumnya Book Buddies mengunjungi Panti Asuhan Anni’mah Cakung, Jakarta Timur, tepatnya pada 3 Mei 2025. Aktivitas serupa turut dilakukan Book Buddies bersama anak-anak Panti Asuhan Anni’mah.
“Usai donasi buku dan membaca buku bersama, kita bahas buku yang dibaca berisi aktivitas sehari-hari misalnya cara meraih mimpi kemudian dongeng rakyat seperti si kancil dan buaya. Kita juga bahas buku berisi anjuran jangan pernah membohongi orang tua. Jadi dari buku itu ada pelajaran hidup yang tersirat tidak boleh berbohong dan bila bohong siap bertanggung jawab akibatnya dan bila jujur apa dampaknya,” ujar Michelle.
Antusiasme Menyambut Kehadiran Book Buddies
Suasana berbeda dari biasanya tampak di Panti Asuhan Domyadhu Lubang Buaya pada Sabtu pagi 6 Desember 2025. Hari itu terasa istimewa karena anak-anak Panti Asuhan Domyadhu antusias menyambut kehadiran Book Buddies.
Menurut Rani Supadmi, pengurus Yayasan Domyadhu Lubang Buaya, 25 anak panti asuhan rata-rata umur 6 tahun hingga 12 tahun senang menerima donasi buku dan tidak bosan mengikuti semua aktivitas Book Buddies dari awal sampai selesai. Ada puluhan buku didonasikan oleh Book Buddies mencakup buku komik Indonesia, buku cerita anak Indonesia, dan buku pengetahuan.
“Kita senang menerima kedatangan Book Buddies memotivasi anak-anak panti asuhan Domyadhu gemar baca buku agar menambah pengetahuan. Setelah donasi buku, anak-anak diajak membaca buku bersama. Mereka pun termotivasi menyampaikan pendapat saat diskusi dan story telling membahas isi buku yang dibaca,” ujar Rani.

Rani menambahkan, selama mengunjungi Domyadhu, anak-anak panti asuhan juga semangat mengikuti permainan seru, pohon cita-cita. Mereka mencantumkan cita-cita pada karton kecil kemudian ditempel ke pohon cita-cita lalu dibahas per kelompok. Anak-anak dibagi beberapa kelompok yang didampingi dua mentor Book Buddies.
Rani berharap Book Buddies semakin berkembang dengan berbagai aktivitas positif meningkatkan minat baca masyarakat, terutama generasi muda sehingga menginspirasi orang lain melakukan kegiatan serupa. Seharusnya peran Book Buddies didukung semua pihak, termasuk pemerintah. Apalagi minat baca di Indonesia berpotensi ditingkatkan tapi dukungan pemerintah masih minim.
“Kegiatan Book Buddies sangat baik semoga bermanfaat bagi anak-anak marjinal. Kita senang menerima Book Buddies jika kembali berkunjung ke Panti Asuhan Domyadhu Lubang Buaya,” kata Rani.
Berbekal gerakan komunitas Book Buddies, Michelle meraih gelar Ashoka Young Changemaker pada 22 Mei 2025. Penghargaan ini diberikan oleh lembaga nonprofit pelopor kewirausahaan sosial Ashoka Indonesia. Michelle terpilih bersama 13 remaja lainnya setelah lolos seleksi ketat dari 356 kandidat yang mewakili berbagai daerah di Indonesia. Ke-14 remaja tersebut dinilai memiliki insiatif pembaharu atau penggerak perubahan yang berkontribusi besar bagi masyarakat menjadi lebih baik.