Penulis : Ramadhan Wibisono
Independen.id - Pemanasan global menjadi masalah lingkungan hampir semua negara. Dampak pemanasan global yang sering dirasakan adalah perubahan iklim meningkatnya suhu bumi dengan gejala kemarau panjang hingga kekeringan.
Sesuai analisis pakar resiko iklim di Cross Dependency Initiative (XDI) yang dirilis awal 2023, Indonesia termasuk 15 negara rentan cuaca ekstrem dan perubahan iklim terutama pemanasan global yang dipicu peningkatan emisi gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO2) ataupun metana. Disebut rumah kaca karena gas ini berfungsi layaknya kaca yang menyerap sekaligus memantulkan radiasi matahari sehingga panasnya tersimpan di permukaan bumi. Mengutip website Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG), jika kadar CO2 makin meningkat maka suhu bumi pada akhir abad 21 berpotensi naik mencapai 3,5 derajat celcius sampai 4 derajat celcius.

Mayoritas pembangkit listrik di Indonesia menggunakan bahan bakar batu bara. Semakin banyak energi listrik dikeluarkan maka semakin besar pembakaran batu bara yang menghasilkan gas karbon sehingga membahayakan lingkungan karena emisi karbon dioksida meningkat. Melansir Global Energy Monitor, selama tahun 2024 terdapat 265 pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara di Indonesia, dengan total kapasitas 54,68 gigawatt (GW). Jumlah ini meningkat dibanding akhir semester I tahun 2023 ada 234 PLTU batu bara dengan total kapasitas 45,35 GW.
Berdasarkan data Global Energy Monitor semester 1 tahun 2023, PLTU batu bara terbesar di Jawa Tengah, dengan total kapasitas 10,09 GW. Sedangkan Jawa Barat, menempati peringkat 4 dengan total kapasitas 3,21 GW. Berdasarkan status kepemilikannya, perusahaan yang menguasai PLTU batu bara terbesar di Indonesia adalah PT PLN (Persero) dengan total kapasitas 8,43 GW. Beberapa anak perusahaan PLN tidak ketinggalan memiliki PLTU batu bara dengan kapasitas terbesar skala nasional, yaitu PT Indonesia Power Suralaya PGU dan PT Indonesia Power.


Global Energy Monitor menunjukkan sepanjang 2022, PLTU batu bara di seluruh negara menghasilkan sekitar 9,88 miliar ton. Saat itu, Tiongkok menjadi negara penghasil emisi PLTU batu bara terbesar, yakni sekitar 5 miliar ton CO2. Sementara Indonesia menempati peringkat ke-6 dengan emisi PLTU batu bara 214 juta ton CO2, sejajar Afrika Selatan.
Panel Surya Digunakan di SMPN 34 Depok
Upaya mengurangi pemanasan global sekaligus emisi gas rumah kaca, salah satunya menggunakan energi listrik lebih hemat dan ramah lingkungan seperti dilakukan di SMPN 34 Depok dengan penggunaan panel surya sebagai sumber energi listrik. Tindakan ini selaras dengan tekad pemerintah Indonesia mengurangi emisi gas rumah kaca yang ditimbulkan gas karbon sekaligus mencapai Zero Emission pada 2060 atau lebih cepat. Pemerintah mengupayakan transisi energi di Indonesia yaitu peralihan menggunakan energi terbarukan lebih bersih dan hemat di antaranya energi listrik panel surya, angin, air, serta biomassa untuk mengurangi ketergantungan bahan bakar batu bara, gas, dan minyak bumi yang merusak lingkungan. Energi terbarukan dapat dimanfaatkan terus-menerus tanpa menghabiskan sumbernya. Karena itu, energi terbarukan dipandang sebagai alternatif penting menekan emisi gas rumah kaca sekaligus menjaga ketahanan energi jangka panjang.
Menurut Siti Rohaya, Kepala SMPN 34 Depok, panel surya merupakan bantuan PT Pertamina Gas Negara (PGN) sejak Januari 2025 dengan kapasitas 3,3 kilowatt (KW) sebagai edukasi mewujudkan energi terbarukan. SMPN 34 Depok terpilih menerima bantuan karena fokus pengembangan sektor pendidikan berwawasan lingkungan. Panel surya menjadi sumber energi listrik operasional kantin hingga pengairan tanaman hidroponik di sekolah serta cadangan listrik jika listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) padam.
“Penggunaan panel surya di sekolah sebagai awal pengenalan energi terbarukan ramah lingkungan bagi murid dalam kehidupan sehari-hari. Kapasitas 3,3 KW tidak terlalu besar memenuhi semua kebutuhan sekolah jadi kita gunakan untuk keperluan kantin, pengairan tanaman hidroponik, dan listrik cadangan di area prioritas jika kondisi darurat listrik PLN padam. Panel surya hanya digunakan pagi sampai sore,” ujar Siti Rohaya belum lama ini.
Lebih lanjut Siti Rohaya menjelaskan, edukasi panel surya masuk pembelajaran di kelas, salah satunya pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Sosialisasi pengenalan panel surya juga dilakukan saat masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) meliputi komponen dan penggunaanya oleh guru dibantu perwakilan PGN. Sedangkan izin pemasangan panel surya telah diurus pihak PGN dan siap kerja sama ataupun komunikasi dengan pihak manapun termasuk PLN. Penggunaan panel surya sejak pemasangan sampai sekarang berjalan baik tanpa masalah serta diklaim menghemat biaya listrik pengeluaran sekolah Rp500 ribu sebulan atau sekitar Rp6 juta setahun dari total daya listrik yang terpakai 105 KW.
“Di sekolah telah terbentuk komunitas ranger warrior dan ranger 34. Kita rutin rekrutmen regenerasi setiap MPLS kita sosialisasi penggunaan panel surya sebagai energi terbarukan yang hemat dan ramah lingkungan. Tidak ada peninjauan rutin dari pihak PGN atau PLN tapi kita bisa menghubungi mereka jika ada masalah panel surya,” jelas Siti Rohaya.
Sementara itu, guru informatika sekaligus staf sarana prasarana SMPN 34 Depok, Sahito Baharudin mengungkapkan, panel surya di sekolah menggunakan sistem off grid dilengkapi baterai penyimpan energi listrik kapasitas 5 KW. Jika listrik PLN mati dan tidak ada matahari sebagai sumber utama panel surya, listrik masih bisa dialirkan melalui baterai penyimpan. Biasanya panel surya menerima dan menyimpan energi matahari dalam baterai kemudian disalurkan ke peralatan yang membutuhkan di area kantin dan pengairan hidroponik. Kadang listrik dari panel surya sebagai cadangan saat rapat di aula bila listrik mati karena pengelola sekolah tidak memiliki genset. Bila daya listrik dalam baterai habis, sistem panel surya otomatis isi ulang sendiri. Agar baterai penyimpanan terisi penuh butuh waktu pengecasan dua hari sampai tiga hari.
“Indikator panel surya selalu penuh 3 bar kebetulan penyaluran listrik panel surya ke area kantin dan pengairan hidropronik hanya terpakai 1 bar. Pernah saat kita gunakan listrik panel surya untuk pengelasan malah habis tapi baterai panel surya langsung isi ulang sendiri. Selama pengecasan idealnya panel surya tidak digunakan tapi kita perlu gunakan panel surya untuk pengairan hidroponik tapi untungnya energi listrik panel surya yang dikeluarkan untuk hidroponik tidak terlalu banyak. Bila panel surya digunakan saat pengecasan mempengaruhi durasi cepat lambatnya pengecasan jadi butuh empat hari terisi penuh,” ungkap Sahito.
Sahito menambahkan, pemasangan panel surya off grid dengan instalasi tersendiri, jadi bila panel surya off grid mati maka tidak mempengaruhi listrik PLN sehingga otomatis aliran listrik ke kantin dan hidroponik ikut mati. Untuk jalur listrik di kantin telah diedukasi ke murid menggunakan panel surya. Murid juga diedukasi turun langsung mengembangkan hidroponik yang pengairannya memakai listrik panel surya. Sementara pengecekan baterai panel surya rutin sebulan sampai dua bulan sekali. Indikatornya bunyi bila habis daya penyimpan baterai.
“Kehadiran panel surya off grid sebagai edukasi ke murid tentang energi terbarukan ramah lingkungan. Kita di SMPN 34 Depok berbasis peduli lingkungan, maka dengan panel surya off grid sebagai edukasi pengembangan energi terbarukan area kantin dan pengairan hidroponik. Bila ada gangguan atau panel surya off grid bermasalah, kita segera lapor ke petugas PGN,” tambah Sahito.
Panel surya off grid dirancang menghasilkan listrik lebih banyak saat pagi hingga siang hari kemudian disimpan dalam baterai sehingga bisa diakses saat sistem tidak menghasilkan listrik pada malam hari ataupun cuaca mendung. Panel surya off grid mengandalkan matahari sebagai satu-satunya sumber energi karena tipe ini biasanya sebagai cadangan yang tidak disinkronkan dengan listrik PLN melainkan didukung baterai penyimpan.
Sistem yang disebut dengan Stand Alone Photovoltaic ini sangat cocok pada bangunan sulit dijangkau jaringan PLN, karena sifatnya mandiri mengandalkan baterai. Mengikuti standar Kementerian Energi Sumber Daya Mineral, penggunaan cadangan baterai panel surya off grid minimal bertahan tiga hari untuk mengantisipasi cuaca kurang mendukung atau intensitas cahaya matahari yang rendah. Sistem off grid diperkirakan membutuhkan biaya tinggi empat kali lipat untuk pemasangan dan pemeliharaan berkelanjutan, termasuk harga baterai mahal.
Berbeda dengan panel surya on grid, panas matahari yang diterima diubah menjadi arus listrik searah DC (direct current) kemudian diubah menjadi arus bolak-balik AC (alternative current) oleh inverter selanjutnya disinkronkan dengan arus listrik dari PLN. Mayoritas bangunan komersial maupun industri lebih tertarik memasang panel surya on grid mengingat lokasinya tersedia akses PLN selama 24 jam sehingga mampu menghasilkan energi listrik lebih besar serta biaya pemasangan maupun pemeliharaan lebih irit.
Di SMPN 34 Depok terdapat kader Adiwiyata mencakup delapan guru biasa mengadakan workshop dua sampai tiga bulan sekali atau sekali setahun tentang edukasi panel surya bagi murid sebagai upaya penggunaan sekaligus penghematan energi ramah lingkungan. Edukasi peduli lingkungan terintegrasi di semua pelajaran tapi bukan penilaian wajib. Adiwiyata adalah program nasional Kementerian Lingkungan Hidup untuk menciptakan sekolah peduli lingkungan. Tujuannya mewujudkan warga sekolah yang bertanggung jawab dalam kepedulian lingkungan melalui kebijakan, kurikulum berbasis lingkungan, kegiatan partisipatif, dan pengelolaan sarana pendukung ramah lingkungan. Harapannya melalui penggunaan panel surya yang diedukasi oleh tim adiwiyata mampu memotivasi murid menggunakan energi ramah lingkungan di rumah maupun kehidupan sehari-hari.
Radinka Isha, siswi kelas 8 SMPN 34 Depok, mengakui manfaat ataupun keunggulan penggunaan panel surya di sekolah. Ketua Organisasi Siswa Intra Seolah (OSIS) SMPN 34 Depok ini pernah diajarkan penggunaan panel surya oleh kader adiwiyata bersama sejumlah murid dan guru, termasuk fungsi tombol dan simbol yang tercantum di peralatan panel surya. Radinka berharap penggunaan panel surya diperluas ke semua ruang di sekolah.
“Keunggulan panel surya di sekolah kami bisa hemat listrik dan hemat biaya karena area kantin dan hidroponik tidak memakai listrik PLN. Dengan panel surya, kami memanfaatkan sinar matahari. Saya berharap penggunaan panel surya diperluas ke semua ruangan di sekolah tidak hanya area kantin dan pengairan hidroponik,” kata Radinka baru-baru ini.

Harapan serupa disampaikan siswi kelas 8 SMPN 34 Depok lainnya, Berliana Apriliani Sihotang. Pelajar yang akrab disapa Berlin ini berharap energi listrik panel surya tidak hanya digunakan di area kantin dan hidroponik tapi menjangkau semua ruangan di sekolah. Dirinya pernah menerima edukasi menggunakan panel surya oleh tim adiwiyata yang diikuti murid dan guru.
“Karena memanfaatkan matahari jadi panel surya lebih hemat listrik PLN. Penggunaan panel surya belum masuk pelajaran inti di kelas, tapi materi panel surya disampaikan saat workshop tim adiwiyata yang diikuti murid dan guru. Saya berharap penggunaan panel surya diperluas ke semua ruangan di sekolah tidak cuma kantin dan hidroponik,” tutur Berlin yang kini menjabat Wakil Ketua OSIS SMPN 34 Depok.
Pemerintah Indonesia memiliki target energi terbarukan sebesar 23% pada 2025 dan 31% pada 2050. Berdasarkan laporan Climate Transparency, tantangan utama transisi energi mencakup pendanaan diperkirakan mencapai 20 miliar sampai 40 miliar dolar Amerika Serikat per tahun pada 2050. Melalui penggunaan energi terbarukan, kebutuhan pendanaan transisi energi sangat besar namun realisasi sekarang masih jauh di bawah kebutuhan. Kesiapan transisi energi di Indonesia belum sepenuhnya selaras dengan kebutuhan mitigasi gas rumah kaca.
Regulasi Penggunaan Energi Listrik Panel Surya
Regulasi penggunaan energi listrik panel surya oleh masyarakat di Indonesia diatur oleh Peraturan Menteri Energi Sumber Daya Mineral Nomor 2 Tahun 2024. Dalam peraturan tercantum PLN menentukan kuota pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap yang boleh dipasang di wilayah tertentu sesuai kemampuan operasi jaringan PLN. Peraturan ini merevisi aturan sebelumnya yaitu menghilangkan batasan kapasitas sistem, menghilangkan mekanisme ekspor-impor listrik ke PLN, dan menghapus biaya kapasitas (capacity charge) bagi pelanggan PLTS Atap. Pelanggan harus mendaftarkan diri sebelum pemasangan panel surya melalui aplikasi PLN Mobile. Pendaftaran dibuka setiap bulan Januari dan Juli, selama kuota di daerah tersebut masih tersedia.
Meskipun ada regulasi energi listrik dari panel surya, Alvin Putra Sisdwinugraha, Kepala Pemodelan Sistem Tenaga Listrik Institute for Essential Services Reform (IESR) mendesak perlu segera mekansime transparansi penentuan kuota PLTS atap sehingga tidak menjadi persaingan bisnis tidak sehat antara PLN dan pengguna PLTS atap. Alvin menegaskan penggunaan energi terbarukan rendah emisi PLTS atas mampu mengurangi ketergantungan energi fossil seperti batubara, gas, dan minyak. Pemasangan setiap 1 kilo Watt panel surya atap membantu mengurangi emisi gas rumah kaca 1,2 ton setara CO2 setiap tahun.
“Masyarakat Indonesia bebas memilih sumber energi yang bersih dan berkelanjutan, tidak harus bergantung monopoli PLN. Memberikan regulasi tepat sasaran mendukung warga memasang panel surya adalah langkah nyata mewujudkan desentralisasi dan demokratisasi energi. Penggunaan panel surya harus didukung demi mewujudkan pertumbuhan ekonomi Indonesia berkelanjutan sekaligus mengurangi ketergantungan industri energi fosil yang bersifat destruktif,” tegas Alvin.
Alvin menduga panel surya belum digunakan masyarakat luas dipicu kompensasi tarif listrik yang menguntungkan bisnis energi fosil dan pembatasan kuota PLTS atap. Penghapusan ekspor impor listrik panel surya diduga turut memicu penggunaan panel surya belum meluas karena mengurangi insentif pemasang panel surya sehingga hanya bisa dijangkau kalangan tertentu seperti rumah tangga besar ataupun pelanggan industri dan komersial.
“Panel surya di Indonesia belum digunakan masyarakat luas diduga akibat kompensasi tarif listrik serta pembatasan kuota PLTS atap yang menghalangi pengunaannya secara massif. Subsidi energi fosil seharusnya direlokasikan secara cermat untuk mendukung adopsi PLTS atap, contohnya bantuan PLTS atap bagi masyarakat miskin yang menggantikan subsidi listrik,” jelas Alvin.
Melansir Greenpeace, energi bersih merupakan kunci masa depan lebih sehat dan ramah lingkungan. Indonesia memiliki potensi energi terbarukan sangat besar tapi belum dimanfaatkan optimal. Potensi energi matahari di Indonesia misalnya, sekitar 4,8 kilo watt hours per meter persegi tiap hari atau setara 112.000 gigawatt peak (GWp). Namun, pemanfaatan tenaga surya di Indonesia tergolong rendah dibandingkan potensi yang tersedia. Kapasitas terpasang PLTS relatif kecil menunjukkan kesenjangan besar antara potensi teknis dan realisasi di lapangan.
Pemerintah bersama warga hingga semua pihak perlu menggencarkan upaya transisi energi terbarukan di berbagai sektor, salah satunya pendidikan dengan melibatkan peran aktif generasi muda. Berdasarkan penilaian Climate Action Tracker per Desember 2023, pemerintah Indonesia perlu meningkatkan persentase energi terbarukan 55% sampai 80% pada 2030. Transisi energy terbarukan sangat penting untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang ditimbulkan gas karbon, meningkatkan ketahanan energi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.