Kenapa LGBT Berkomunitas

Komunitas-komunitas LGBT juga menginisiasi konseling, menjadi tempat berdiskusi, dan mempelajari hak-hak yang seharusnya mereka peroleh sebagai warga negara. Selain itu mereka juga aktif mendata dan saling mengampanyekan antar satu sama lain, mengenai  bahaya HIV/AIDS.

Ada satu komunitas LGBT bernama Sanubari Sulawesi Utara (Salut) di Manado, Sulawesi Utara. Rajawali Coco (31) yang menjadi ketuanya. Ia seorang gay. (BACA: Bag. 1- Suara Dari Dalam: LGBT Di Lengan Pulau Sulawesi ).

Saat ditemui di Rumah Kopi Sario, Manado, Coco bercerita mengenai kapan komunitas itu berdiri. Dari penuturannya, Salut berdiri sejak 7 Juli 2012. Ketika pertama kali dibentuk, Salut beranggotakan 200 sampai 300 orang se-Sulawesi Utara. Namun seiring waktu berjalan, makin banyak komunitas-komunitas LGBT lain yang terbentuk, khususnya di tiga Kabupaten dan Kota, yakni Bitung, Tomohon, dan Manado.

Kini anggota Salut hanya tinggal 40-an orang. Yang masih aktif pun hanya 10 orang. Itu terdiri dari 4 gender lengkap: lesbian, biseksual, gay, dan transgender. Meski demikian, upaya mereka untuk memperjuangkan hak-hak LGBT terus berjalan. Khususnya advokasi pada teman-teman mereka yang terdiskriminasi. Juga kampanye tentang bahaya HIV/AIDS.

“Sebenarnya kami bukan pecah komunitasnya. Tapi dengan dibentuknya beberapa komunitas baru, itu adalah jaringan-jaringan baru yang tetap melakukan pendataan seperti biasa,” cerita Coco, yang saat itu ditemani beberapa teman, transman dan waria.

kali dilihat
Tags