LGBT, Moral, Agama Dan Negara

Jurnalis DeGorontalo, Kristianto Galuwo berkesempatan mewancarai Amato  pada akhir Februari 2016 di kediamannya, Manado, Sulawesi Utara :

Apa pandangan Anda dalam menyikapi fenomena LGBT di Indonesia yang akhir-akhir ini cukup kontroversial?

Saya pikir permasalahan dengan LGBT akan tetap kontroversial selama masyarakat kita belum berada pada situasi berpikir dewasa, yaitu pikiran di mana kita bisa menerima otonomi moral di tingkat yang lebih individual. Persoalannya, perjuangan untuk menegakkan otonomi moral semacam ini tampaknya masih akan panjang sementara persoalan itu akan tetap muncul dengan “memakan korban”, terutama di kalangan LGBT. Dan jika tanggapan masyarakat belum bisa diharapkan sepenuhnya positif, maka harus ada upaya dari kaum LGBT sendiri untuk bersikap kreatif dengan keadaan masyarakatnya. Kenapa? Karena tidak ada pihak yang paling bisa mendidik masyarakat untuk menerima keberadaan kaum LGBT, selain kelompok mereka sendiri.

Akan tetapi, pada tingkat tertentu, keadaan saat ini sudah jauh lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sekarang sudah ada kesadaran di beberapa tingkatan masyarakat yang bisa menerima keberadaan mereka, minimal di kalangan intelektual dan kelompok-kelompok terpelajar.

Apakah masyarakat yang menolak keterbukaan kaum LGBT yang menuntut persamaan hak, salah menurut Anda?

Tentu saja salah untuk menolak realitas keragaman orientasi seksual dan pilihan-pilihan gaya hidup yang keluar dari “normalitas” umum. Tapi, persoalan kita sekarang bukan semata mengambil posisi salah-benar, karena pihak yang menolak LGBT itu masih akan dengan aman merasa bahwa mereka benar. Persoalan kita, setidaknya untuk saat ini, adalah memperjuangkan agar penolakan itu tidak berubah menjadi persekusi sosial bagi kaum LGBT, apalagi sampai melibatkan negara.

Kenapa ada masyarakat yang menolak dan ada juga yang mendukung?

Saya kira ada banyak jawaban yang bisa diberikan untuk menjawab pertanyaan itu. Tapi inti dari semua jawaban itu akan mengungkapkan satu fakta menarik, keragaman. Dan akan selalu begitu. Makanya saya katakan lagi, persoalannya bukan menolak atau menerima tapi bagaimana penolakan dan, sekarang bisa saya tambahkan, penerimaan itu, tidak mendukung sikap mereka dengan kekerasan dalam bentuk apapun, termasuk tidak mengundang campur tangan negara (sebagai pemegang hak atas kekerasan) lebih dari yang diperlukan. Saya tambahkan, mengharapkan penerimaan dari seluruh pihak dalam masyarakat adalah utopia yang berbahaya. Tapi bukan utopia untuk berharap bahwa mereka yang menolak eksistensi kaum LGBT, bisa merasa nyaman dengan sikap mereka tanpa harus menghalangi hak kaum LGBT untuk juga merasa aman dengan pilihan mereka.

kali dilihat
Tags