Warga Menentukan Peradaban Kota

Jumlah penduduk Indonesia sudah lebih dari 50% tinggal di kawasan perkotaan, tetapi perhatian pada penataan kota masih minim, demikian Nirwono Joga dalam perluncuran buku barunya Membangun Peradaban Kota di Ruang Perpustakaan Kementerian PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat), Jakarta (5/9/2018).

"Sekarang kita ada Kementerian Desa, Dana Desa dan seterusnya. Tetapi perhatian pada kota, lembaga pemerintah masih di bawah Direktorat Jenderal, "kata Nirwono Joga. Hal ini mencerminkan perhatian yang kurang dari pemerintah untuk pembangunan kota. Padahal kota menentukan peradaban dan warga kota yang menentukan wajah kota. 

Menurut Nirwono, momentum Asian Games adalah saatnya untuk melakukan penataan kota yang lebih manusiawi. Kota Jakarta dan Palembang terbukti mampu berbenah diri dan menjadi tuan rumah yang sukses. Setelah Asian Games sebaiknya penataan kota terus berjalan. Khususnya di Jakarta, akan selalu menjadi contoh bagi kota-kota lain di Indonesia. 

Pembicara lain adalah Yudhi Widyantoro, inisiator komunitas Yoga Gembira. Dalam bedah buku ini, Yudhi membagikan pengalamannya menjadi relawan trauma healing di Lombok yang baru saja mengalami gempa. "Kebersamaan terasa sekali, kami banyak bertemu kelompok relawan lain dan langsung kerja sama. Bahkan ada turis asing yang awalnya hendak mendaki Rinjani, karena jalur ditutup maka kami ajak membantu dan dia mau,"kisah Yudhi. 

Kegiatan trauma healing dilakukan di lapangan terbuka, di mana anak-anak, ibu-ibu dan para korban lain, bisa bergembira melakukan kegiatan di ruang terbuka. Yudhi menunjukkan bagaimana tata ruang wilayah atau kota sangat membutuhkan ruang terbuka. Jika tidak ada ruang terbuka, maka kota/wilayah yang terkena bencana akan lebih lama pemulihannya. 

Bedah buku ini dihadiri kurang lebih 100 orang yang umumnya mahasiswa dari berbagai kampus, seperti ISTN, Trisakti, Mercubuana. Selain itu hadir pula akademisi kampus, aktivis komunitas dan birokrat dari Kementerian PUPR. 

Buku Membangun Peradaban Kota adalah karya Nirwono Joga bersama dengan anaknya, Dhaneswara Indrajoga. Pada bab awal membahas persoalan yang dihadapi Ibukota Jakarta. Karena bagaimana pun Jakarta menjadi contoh bagi kota-kota lain. Berikutnya membahas persoalan klasik tentang Banjir, Sampah, Pemukiman, Pasar dan Bagaimana Kota berbasis gender. Pada bab-bab akhir, buku ini lebih mengulas asa dan peluang membangun peradaban kota. Diterbitkan oleh Penerbit Gramedia, 2018.  

kali dilihat