NDEPENDEN, Jakarta -- Selama dalam persembunyian, Wiji Thukul tak henti menulis puisi. Setidaknya 28 puisi dihasilkan ketika dalam masa buron, setelah peristiwa 27 Juli 1996 (Kudatuli). Beberapa hari pasca peristiwa Kudatuli, muncul dalam pemberitaan, perintah Presiden Soeharto agar aparat “menindak” tegas PRD.
Penguasa menyamakan gerakan partai ini dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Pemerintah pun menyatakan organisasi jaringan PRD, seperti Pusat Perjuangan Buruh Indonesia (PPBI), Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID), Serikat Tani Nasional (STN), dan Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (JKR) atau di Berita Buana ditulis Jajaran Kesenian Rakyat (JKR), tak lain bentuk baru PKI dan organisasi sayapnya. Selengkapnya: Kudatuli dan Wiji Thukul.
Wiji Thukul adalah pimpinan Jaker untuk wilayah Solo. Kumpulan puisi Aku Ingin Jadi Peluru, mendokumentasikan puisi-puisi Wiji Thukul yang berhasil diselamatkan. Kumpulan puisi ini diterbitkan Indonesia Tera pertama kali pada 2000. Tokoh hak asasi manusia, Munir memberikan kata pengantar pada buku ini. Munir juga “dihilangkan” oleh negara karena aktivitasnya.
Salah satu puisi yang dihasilkan Wiji Thukul dalam persembunyiannya adalah puisi tanpa judul. Dalam salah satu scene film Istirahatlah Kata-Kata, Sipon, istri Wiji Thukul, menceritakan tindakan aparat menggeledah rumah, dan mengambil buku-bukunya.
Kuterima kabar dari kampung
Rumahku kalian geledah
Buku-bukuku kalian jarah
Tapi aku ucapkan banyak terima kasih
Karena kalian telah memperkenalkan
Sendiri
Pada anak-anakku
Kalian telah mengajar anak-anakku
Membentuk makna kata penindasan
Sejak dini
Ini tak diajarkan disekolahan
Tapi rezim sekarang ini memperkenalkan
Kepada semua kita
Setiap hari di mana-mana
Sambil nenteng-nenteng senapan
Kekejaman kalian
Adalah bukti pelajaran
Yang tidak pernah ditulis
Indonesia, 11 Agustus 96
Y. Hesthi Murthi