Independen -- Penderita kusta selain harus disiplin mengobati penyakitnya, juga masih harus melawan stigma sosial yang memberi label menakutkan. Kusta sering kali disalahartikan sebagai kutukan, sehingga penderitanya harus dijauhi.
Akibat stigma sosial kusta adalah kutukan, maka sering kali pengobatannya terlambat. Penderita disembunyikan oleh keluarga atau diasingkan ke tempat terpencil, sehingga tidak mendapatkan pengobatan. Padahal kusta adalah penyakit yang bisa disembuhkan dan tidak menular lewat sentuhan. Kusta hanya bisa menular lewat udara/pernafasan jika interaksi erat terus menerus kurang lebih 2 tahun.
Stigma ini juga yang menghantui pada penyintas kusta, meskipun mereka sudah sembuh total, tetapi masyarakat masih takut berinteraksi. Maka banyak penyintas kusta yang kemudian bekerja dengan mengemis di jalanan, karena tidak orang yang mau mempekerjakan mereka.
Untuk melawan stigma tersebut, para penyintas kusta di Makasar membentuk organisasi Perhimpunan Mandiri Kusta (PerMata). Lewat organisasi ini para penyintas membantu dan memberi semangat para penderita kusta, agar tidak malu dan mau berobat.
Bagaimana penanangan kusta di kota Makasar, simak liputan ini Melawan Stigma Kusta di Kampung Jongaya Makassar
(D02)