Kudatuli dan Wiji Thukul

INDEPENDEN.ID, Jakarta --- Wiji Thukul, satu dari 13 korban penghilangan paksa karena aktivitas politiknya pada 1998. Ia sempat menghilang setelah peristiwa perebutan kantor Partai Demokrasi Indonesia (PDI), Jalan  Diponegoro, Jakarta Pusat pada 27 Juli 1996. Peristiwa ini popular dengan nama Kudatuli.

Sekitar 200 massa terlatih kelompok Soerjadi, Ketua Umum PDI yang terpilih pada Kongres Medan pada Juni 1996, mendatangi Jalan Diponegoro. Peristiwa yang berlangsung pada hari Sabtu ini, menjadi berita headline di berbagai media massa di Jakarta, seperti Harian Berita Buana pada Senin, 29 Juli 1996. Media massa terus memberitakan kasus ini pada hari-hari berikutnya.

Pemerintah menetapkan , Partai Rakyat Demokratik (PRD) sebagai agitator kerusuhan. “Saat itu yang gencar memberitakan Gatra, Garda, Pos Kota dan Terbit,” kata Wahyu Susilo, adik Wiji Thukul kepada Independen, pekan lalu. Ia mengaku ketika peristiwa itu terjadi, telah bekerja di Jakarta.  

Koran-koran daerah yang memiliki kantor perwakilan di Jakarta, seperti Jawa Pos dan Surabaya Post juga memberitakan. Termasuk media daerah yang saat itu berlangganan kantor berita Antara.

Sumber: Harian Berita Buana, 30 Juli 1996, koleksi Perpustakaan Nasional, Jakarta. 

Sejak pemilihan Ketua PDI tandingan yang berlangsung Juni, massa menggelar mimbar bebas di kantor  PDI, sebagai bentuk dukungan kepada putri Soekarno, Megawati, Ketua PDI 1993-1998 yang terpilih saat Kongres Luar Biasa di Surabaya pada 1996. PRD, partai yang baru dideklarasikan pada 22 Juli 1996, salah satu kelompok itu.  

Beberapa hari pasca peristiwa Kudatuli, muncul dalam pemberitaan, perintah Presiden Soeharto agar aparat “menindak” tegas PRD. Penguasa menyamakan gerakan partai ini dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Pemerintah pun menyatakan organisasi jaringan PRD, seperti Pusat Perjuangan Buruh Indonesia (PPBI), Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID), Serikat Tani Nasional (STN), dan Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (JKR) atau di Berita Buana ditulis Jajaran Kesenian Rakyat (JKR), tak lain bentuk baru PKI dan organisasi sayapnya.

Pemerintah mengidentifikasi organisasi jaringan PRD hingga tingkat daerah, seperti Serikat Rakyat Solo. Sementara itu, Wiji Thukul saat itu dikenal sebagai Ketua Jaker Solo. Ia sempat tampil di publik saat Deklarasi PRD. Baca: Bunga Api dalam Persembunyian.

Sutiyoso, Panglima Kodam Jaya saat itu, menyetujui perintah tembak di tempat bagi para tokoh PRD.  Saat Wiji Thukul dalam persembunyian, Wahyu Susilo mengatakan Oktober 1997 sampai Januari 1998 masih bertelepon. Di mana posisinya? “Saya tidak tahu.”

Sumber: Harian Berita Buana, 31 Juli 1996, Koleksi Perpustakaan Nasional, Jakarta. 

Sementara di Jakarta kondisi politik menjadi panas karena penangkapan, begitu pula yang dirasakan redaksi Lembaga Pers Mahasiswa Sastra, Universitas Jember, Ideas. Warung kopi Pak Ali, tempat biasa mereka  berdiskusi, muncul orang-orang tak dikenal. Posisi warung kopi ini di pinggir kali, tak jauh dari sekretariat yang beralamat di Jalan Jawa, Jember ini.  “Setiap pagi, tentara lari-lari di Jalan Jawa dan Kalimantan,” kata Praminto Moehayat, kepada Independen, pekan lalu.

Sementara itu di sekretariat Ideas, masih bertumpuk tabloid yang memuat wawancara dengan Wiji Thukul. “Tidak ada kekhawatiran, tidak ada niat menyembunyikan,” kata Praminto, “Was-was diculik, ada.” Baca: Jejak Wiji Thukul dalam Berita.

Kekhawatiran itu beralasan, pasalnya, tidak hanya memuat wawancara dengan Wiji, sekretariat lembaga ini juga pernah disinggahi Herman Hendrawan, salah satu tokoh SMID dan PRD. Herman ditangkap pada 1998, dan hilang. “Dua hingga tiga kali ia sempat datang ke kampus bersepeda motor dari Surabaya,” kata Praminto.  

Hingga pada sekitar 1997, ketika mereka menyelenggarakan sebuah pertemuan nasional pers mahasiswa, spanduk dan selebaran pun disabotase. Tema kegiatan yang diserahkan ke percetakan dengan tulisan Proyeksi Kesiapan Bangsa Indonesia Menghadapi Era Global, pun berubah.

Huruf kapital  B pada tulisan Bangsa diubah menjadi huruf kecil. “Jika dibaca jadi jarak jauh, seperti PKI MEG,” katanya. MEG dalam pergaulan di Jember, berarti OK. Akibatnya beberapa panitia pun dipanggil aparat.

Mereka diinterogasi keterlibatannya dengan partai ini. Praminto menjelaskan mereka selamat karena yang menentukan percetakan spanduk dan poster adalah sponsor. “Termasuk yang memasang adalah mereka,” katanya.

Y. Hesthi Murthi

kali dilihat