....
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan/
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!
Wiji Thukul, Solo 1986
INDEPENDEN.ID, Jakarta – Sepenggal puisi “Peringatan” karya Wiji Thukul di atas punya arti kuat bagi gerakan mahasiswa. Penggalan puisinya direplikasi dan disebarluaskan dalam bentuk poster dan stiker oleh pers mahasiswa.
“Syairnya menginspirasi. Sangat membakar,” kata Dwijo Utomo Maksum, alumni Universitas Jember sekaligus aktivis pers mahasiswa di era 90an, kepada Independen, Kamis (19/1).
Wiji Thukul tak hanya aktif memproduksi puisi kritis atau protes kepada kekuasaan atas realitas masyarakat saat itu. Tapi sering “ngamen” puisi dari kampung ke kampung. Lelaki kelahiran Solo, 26 Agustus 1963 ini, juga kerap membacakan puisinya saat aksi-aksi massa buruh dan mahasiswa. Puisinya makin popular sejak 1980-an.
Menurut Dwijo nama Wiji Thukul pun dikenal karena puisi-puisi perlawanan hingga ke kampus yang berjarak sekitar 180 Kilometer dari Surabaya, Jawa Timur. “Entitasnya memang tidak tampak karena pergerakannya hanya sekitar Solo dan Semarang. Tapi dikenal sebagai penyair rebel (perlawanan, red), seperti Rendra,” kata Dwijo.
Semangat perlawanan itu memang tak hanya tampak dari rangkaian kata-kata sederhana dalam puisinya. Tapi juga tampak dalam sikapnya.
Tabloid Ideas, Fakultas Sastra, Universitas Jember, mendokumedaksi mewawancarai Wiji Thukul karena melihat semangat menggerakkan perubahan menggunakan karya sastra. “(Mewawancari Wiji-red) bagian dari gerakan melakukan gerilya wacana,” katanya, Kamis (19/1).
Lembaga ini mengirim lima reporter ke Solo. Mereka antara lain Heribertus, Rudy Astriono, Ari Dwi Irawanto, Imam Wahyudi dan Didit Yusanto. Mereka mewawancarai Wiji disela-sela menghadiri seminar “Peranan Negara dalam Perkembang Sastra”, yang diselenggarakan Fakultas Sastra, Universitas Negeri Surakarta.
Kepada Independen, Praminto mengaku tak mengingat secara rinci waktu wawancara dengan Wiji Thukul. Isi wawancara dengan Wiji Thukul diterbitkan sebelum peristiwa huru hara penyerangan kantor Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat.
Saat itu PDI dikuasai Megawati Soekarnoputri dalam Kongres Luar Biasa di Surabaya terpilih sebagai Ketua Umum PDI 1993-1998. Penyerangan ke kantor partai berlambang banteng pada Sabtu, 27 Juli 1996 dilakukan massa Soerjadi, Ketua PDI hasil Kongres Medan pada Juni 1996, yang didukung pemerintah saat itu.
Wawancara dalam Tabloid Ideas diturunkan dalam format tanya jawab berjudul “Sastra Bisa Bikin Kritis”. Isi wawancara menyebutkan, Wiji tak segan mengkritik sikap kritikus puisi atau seniman yang mengatakan puisi protes adalah puisi “puber” atau puisi yang belum dewasa. Wiji dengan tegas mengatakan penilaian itu tidak bertanggung jawab dan tidak benar. Karena bagi Wiji, “Sastra merupakan alat untuk menyampaikan gagasan, sastra bukan tujuan dan ini yang dipungkiri seniman kita”.
Ia pun mengkritisi penyair yang membatasi kreativitas seninya memilih berkompromi dengan kekuasaan karena menggantungkan hidup dari karya seni. Tak hanya itu, Wiji juga mengkritis campur tangan militer dalam kegiatan sastra yang dianggap berlebihan. Dalam wawancara itu, pegiat teater sejak di SD ini, menyatakan, “Bagaimana rakyat mau cerdas dan kritis kalau hal-hal semacam itu dilarang.”

Terbitan edisi wawancara dengan Wiji Tukul ini dicetak sebanyak 3.000 eksemplar. Edisi wawancara ini tidak hanya didistribusikan ke mahasiswa Fakultas Sastra, jaringan pers mahasiswa dan kelompok gerakan mahasiswa.
Praminto mengatakan, edisi wawancara dengan Wiji Thukul juga dikirim ke para pejabat di Jakarta, termasuk ke Jalan Cendana, Jakarta, rumah Presiden Soeharto. Saat itu pengiriman dilakukan dengan memanfaatkan prangko pos berlangganan. “Waktu biaya kirim murah. Jadi kami kirimi semua pejabat, termasuk ke Cendana,” kata Praminto.
Y. Hesthi Murthi