Industri Buku, Kian Lapuk di Tengah Pagebluk

Satu dekade terakhir industri penerbitan buku mengalami kemerosotan. Berbeda dengan di luar negeri, kebijakan pembatasan interaksi sosial justru tak mampu menolong industri buku lokal bangkit dari keterpurukan.

Independen --- Empat hari jelang pergantian tahun 2020, Bilven Rivaldo Gultom, 42 tahun, sibuk mengemas penerbitan terbaru Ultimus, buku Friedrich Engels: Pemikiran dan Kritik. Dia menyelipkan beberapa pembatas buku ke dalam paketan buku itu. “Ini mungkin buku (diterbitkan) ke-120-an,” kata Bilven ketika ditemui di kantor sekaligus gudang Ultimus di daerah Cikutra, Bandung.

Proses penerbitan bukunya terbilang cepat. Bilven sebagai pendiri Ultimus ingin buku itu sampai ke pembaca seiring momen 200 tahun lahirnya Engels, seorang Jerman yang kerap dianggap bapak sosialisme dunia pada 28 November 2020 lalu. Dosen antropologi Universitas Padjadjaran, Dede Mulyanto dan dosen sosiologi Universitas Lampung didapuk jadi editor buku yang memuat sembilan tulisan tentang Engels ini.

Kondisi pandemi Covid-19 yang berlangsung hampir setahun ini tidak menghalangi penerbitan buku itu. Bilven merogoh kocek sekitar Rp50 juta untuk proses produksinya. Modalnya dari tabungan Ultimus.

Keterangan foto: Bilven Rivaldo Gultom, 42 tahun, membungkus buku terbaru dari penerbitan Ultimus, Friedrich Engels: Pemikiran dan Kritik di Bandung, Minggu, 27 Desember 2020. Penerbitan buku yang menggunakan skema pre-order ini mendapatkan pesanan hingga seribu eksemplar lebih dalam waktu kurang dari dua pekan. [Adi Marsiela]

 

Pria yang melakoni penjualan buku-buku ilmu sosial dan humaniora sejak 15 Januari 2004 ini membuka kesempatan pre-order mulai 20-30 November 2020 untuk buku bersampul merah ini. Satu eksemplar dibanderol Rp25 ribu atau setengah harga jual pada masa pre-order. “Kita peringati bapak sosialis dunia, masa kita jual mahal?”

Pengumuman soal rencana penerbitan buku baru itu dia sebarkan via media sosial. Twitter, Facebook, hingga Instagram. Pesanan berdatangan. Bilven pun memesan 2 ribu eksemplar untuk cetakan pertamanya. “Masih ada stok 400 buku,” imbuh Bilven saat dikonfirmasi pada akhir Januari 2021.

Masih dalam radius 1 kilometer dari markas Ultimus, Deni Rahman, 41 tahun—pengelola toko buku daring Lawang Buku sekaligus penerbit Propublic—tengah menanti realisasi bantuan langsung tunai bagi pelaku usaha kecil (UMKM).

Bantuan itu nilainya Rp2,4 juta untuk kebutuhan selama pandemi. Harapannya pelaku usaha kecil bisa terbantu saat kesulitan memutar roda ekonominya. “Dikira bakal dikirim ke rekening (pribadi) ternyata harus buka rekening dulu di BRI,” ujar Deni yang sudah memantapkan jalan hidupnya dari usaha penerbitan serta jual beli buku lawas ini.  

Deni merintis usahanya sebagai pelapak buku sejak 2001 silam. Saat itu dia memanfaatkan modal Rp300 ribu dari temannya untuk membeli buku. “Dapat 15 buku. Targetnya buat uji mental,” imbuh Deni yang berjualan di pasar kaget Lapangan Gasibu, Bandung selama satu tahun sebelum pindah lapak ke depan lokasi pameran buku.  

Pergaulan di jalan mengantarkan Deni bertemu dengan banyak pelanggan hingga penerbit. Dia memberanikan diri jadi distributor bagi penerbit-penerbit  mapan macam grup Gramedia, Kiblat, Pustaka Jaya, sampai Mizan. Guna memperlebar pasar, pria berkacamata ini juga tidak segan mendatangi acara-acara dari berbagai komunitas sampai akhirnya membentuk komunitas literasi.

Setelah dua dekade bergelut dalam ekosistem perbukuan, Deni menilai aset paling besar dalam usaha ini adalah pergaulan dan kepercayaan. Penerbit bakal mempercayakan buku-bukunya diperjualbelikan oleh distributor dan jaringannya. “Sistemnya konsinyasi asal laporan tertib ke penerbit,” kata Deni lagi.

Keterangan foto: Pendiri Lawang Buku, Deni Rahman, 41 tahun mencatat pesanan buku lawas di rumahnya, Sabtu, 23 Desember 2020. Pengalamannya selama 20 tahun dalam tata niaga perbukuan membuat dia fokus menggarap buku lawas, menulis, dan mulai merintis penerbitan. [Adi Marsiela]

 

Perlahan tapi pasti pasar buku ini merosot. Deni merasakan benar payahnya berjualan buku saat dia menyewa lapak di Balubur Town Square yang lokasinya bisa ditempuh selama 15 menit berjalan kaki dari kampus Institut Teknologi Bandung. Pada masa ini, dia lebih fokus menawarkan buku-buku lawas yang dia cari dari pelapak buku bekas.

Setahun sebelum melapak di pusat perbelanjaan yang bercampur dengan pasar tradisional itu, Deni sudah memanfaatkan Facebook sebagai lapak daring. Masa-masa ini, ketertarikan pasar rupanya pada isu dan komunitas wisata sejarah kota. Setelah lima tahun, dia tidak bisa membayar lagi kontrak bulanan hingga akhirnya berjualan secara daring dan pelan-pelan merintis penerbitan Propublik yang kini sudah menerbitkan tujuh buku.

Menurunnya penjualan buku apalagi ditambah kondisi pandemi diakui oleh Ditta Sekar Cempaka, Marketing Communication Noura Books, salah satu anak perusahaan kelompok penerbit buku Mizan. Padahal, penjualan buku itu sempat membaik pada 2018-2019. Penerbit Mizan yang sudah berpengalaman 37 tahun juga memilih menutup beberapa penerbitan di bawahnya.

“Tiap tahun penjualan dan judul buku naik, kecuali tahun lalu produksi buku juga di-cut,” kata Ditta yang sempat menjabat sebagai Corporate Public Relation Mizan Group ini.

Satu dekade sebelum pandemi Covid-19, Ditta memaparkan, Mizan sudah memiliki toko daring. Sayangnya penggarapan toko daring itu belum terlalu serius jika dibandingkan sekarang. “Potensi pasar di offline itu masih besar tapi akhirnya kami buka beberapa toko resmi di berbagai market place seperti Tokopedia, Shoppee,” tutur Ditta menceritakan penggarapan market place yang mulai jadi perhatian sekitar Maret-April 2020 lalu.

Ditta memaparkan, kelompok penerbitannya rata-rata menerbitkan 10 judul baru per bulan. Namun semasa pandemi, kuantitas itu merosot hingga 3 judul baru per bulan. Tanpa merinci, Ditta menceritakan penerbitan Mizan bisa bertahan dengan penjualan hingga 50 persen dari biasanya.

Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) dalam buku Industri Penerbitan Buku Indonesia: Dalam Data dan Fakta yang diterbikan 2015  menguatkan ucapan Ditta. Ikapi mencatat saat itu ada 1.437 penerbit, baik yang tercatat sebagai anggota dan non-anggota. Jumlah judul buku yang terbit mencapai 30 ribu per tahun. Pangsa pasar buku umum mencapai Rp14,10 triliun.  Dalam satu dekade terakhir Ketua Umum Ikapi, Arys Hilman memaparkan, ada kemerosotan angka pertumbuhan industri perbukuan.

Kondisi itu tercermin dari data jaringan toko buku Gramedia, jaringan toko buku terbesar di Indonesia. “Angka pertumbuhan yang semula mencapai 28,22 persen pada 2010, secara konsisten setiap tahun merosot hingga titik terendah pada 2017 dengan capaian minus 0,48,” tutur Arys.

Angka itu sempat membaik pada 2018-2019. Ada perbaikan di angka 7,38 dan 4,2 persen, namun tak pernah kembali ke angka pertumbuhan semula. “Benar-benar terpukul saat pandemi Covid-19 datang pada 2020. Dalam kondisi pandemi, kuartal pertama mencatat pertumbuhan minus 17,27 dan lebih parah pada kuartal kedua dengan minus 72,40,” imbuh Arys.

Kondisi yang terus memburuk di masa pandemi tercermin dalam survei Ikapi pada 16-20 April 2020. Penjualan toko buku anjlok lantaran mayoritas penerbit di Indonesia memanfaatkan toko buku sebagai etalase untuk produk-produknya. Ini berkebalikan dengan kebijakan pemerintah yang mengharuskan unit usaha tutup sementara demi pencegahan penyebaran Covid-19.

Sebagian toko buku mencoba beralih ke wahana penjualan digital maupun produksi buku elektronik.  “Pertumbuhannya tak bisa menggantikan pendapatan dari wahana dan saluran konvensional,” kata Arys.  

Survei itu juga memperlihatkan hanya 12% penerbit yang mengeluarkan dan memasarkan buku sesuai kapasitas perusahaan. Sebanyak 20% memasarkan buku yang telah diterbitkan namun membatasi penerbitan buku baru, 28% memasarkan buku yang telah terbit namun tidak menerbitkan buku baru.

“Sebanyak 32% tidak menerbitkan dan memasarkan buku lagi. Sisanya, sebanyak 8% tidak diketahui lagi keberadaannya,” tutur Arys soal survei yang diikuti oleh 100 anggota Ikapi itu.

 

Soal daya tahan usahanya, sebanyak 5,1% penerbit bisa bertahan antara 9-12 bulan saat pandemi berlanjut tanpa kepastian. Sebagian besar atau setara 60,2% penerbit menyatakan hanya sanggup menggaji karyawan selama 3 bulan, 25,5% penerbit masih bisa bertahan antara 3-6 bulan, dan sisanya 9,2% penerbit bisa bertahan selama 6-9 bulan.

Banyak faktor yang memengaruhi kemerosotan industri ini. Mulai dari disrupsi digital, penciptaan iklim bisnis seperti insentif pajak, pembajakan, keputusan untuk menggelontorkan kas saat pandemi, hingga kultur literasi di Indonesia.

Kultur literasi, ujar Arys, jadi pangkal persoalan dan dampaknya terlihat saat pandemi Covid-19. Dia membandingkannya dengan industri perbukuan di negara-negara maju yang justru mengalami berkah karena penjualan bukunya semakin meningkat.  “Masyarakat membeli lebih banyak buku saat harus berdiam atau bekerja di rumah, di Indonesia pasar perbukuan justru mengalami kemerosotan,” tutur Arys.

 

Penulis: Adi Marsiela/D02

kali dilihat