Catatan Waktu 19

Puisi & Lukisan, Kawan yang Ingin Kukawinkan..

KAWAN, Lukisan di atas lahir pada 2016. Sedang puisi di bawah datang dari tahun 2007. Mereka lahir dari tangan yang sama, tapi dengan jalan dan refleksi berbeda. Sebagai sebuah karya, saya tidak menganggap keduanya sebagai anak-anak hasil senggama dengan kreativitas. Saya lebih suka memperlakukan mereka sebagai kawan; kadang solider, kadang soliter. Entah kenapa saya tiba-tiba jadi genit. Saya ingin mempertemukan keduanya. Semoga keduanya dapat menciptakan percakapan, meraba satu sama lain  atau barangkali saling jatuh  cinta. Udah, gitu aja…

 

 

catatan waktu 19

: pada perempuan penari tadi

 

aku melihat langit, menatap puing-puing abad

yang pernah menyematkan keagungan pada anak

anak perawan

 

wajahnya suci

mereka menari pada ribuan malam pengantin

pada ribuan cahaya bulan

 

aku mendengar mantra yang lahir dari tiap

tabuhan rebana. kini aku bertanya tanya: siapakah

sang pertapa yang sudah

nuntaskan hening lalu mengucapkannya?

 

kini aku menerka nerka: siapakah

sang penyair yang baru pulang

dari sunyi lantas menuliskannya?

 

aku mencium wangi seruni yang merasuk batin

ketika kipas kipas terbangun dari pinggang perawan

dan berkepakan di udara, tiba-tiba aku jatuh cinta

pada sepasang tangan

 

yang menjelma kupu-kupu

 

sayap sayapnya indah terukir Karawo

menyimpan legenda tentang kesabaran dan ketegaran

(ah, mataku getar!) tiba-tiba aku menyaksikan bunga

bunga mekar menadahkan wewarna doa

di atas dunia yang fana

 

tuhan

 

aku tertunduk, hening sekali

membayangkan keabadian paling niscaya

 

whitehouse-salonabjad, 

20-22 maret 2007

 

 

Desember

“Mengenang Tsunami Aceh”

 

desember. biografi hujan terkelupas dari mata langit

rintiknya seperti jemari

pagi itu ia usap tanganmu yang beku sebelum gapai

 

desember. pantaimu gurita buta yang meremas jeritan

ia semburkan kematian hitam

yang hitam

mulutku nganga mencari ucap

 

desember. masjid-masjid ditumpahi pekik takbir

cuaca seperti puisi yang meledak

tuhan berserakan di mana-mana

 

ya, di nama-nama

 

desember. lumpur gemuk yang tersesat dalam perut

dan rongga dada

tangisan tirus yang terisak pada ingatan

kau dan aku bertatapan dalam doa

 

ya, dalam dosa

 

desember. bendera-bendera kehilangan warna untuk mengibarkanmu

untuk mengabarkanmu

untuk menguburkanmu

 

ya, untuk mengaburkanMu

 

desember. jam yang masih setia menjaga rahasia padamu

 

ya, aku!

 

                                                                                solo,14 desember 2005

 

Syam Terrajana: Jurnalis dan sastrawan dari Gorontalo. Puisi-puisinya sering di muat di berbagai media, seperti Kompas.

kali dilihat