Bunga Api dalam Persembunyian

 “Aku tidak ingin kamu pergi. Aku juga tidak ingin kamu pulang. Aku hanya ingin kamu ada,” kata Siti Dyah Sujirah alias Sipon (Marissa Anita) dengan suara tertahan di antara isak dan tangis.

INDEPENDEN.ID, Jakarta –Wiji Thukul (Gunawan Maryanto) yang baru pulang dari “persembunyian” pun mengambilkan segelas air untuk sang isteri, Sipon. Setelah tawaran gelas kedua ditolak, Wiji pun pergi ke pintu belakang rumah dan tak muncul lagi.

Tangisnya belum reda. Tapi Sipon memaksakan diri berdiri. Ia berusaha menenangkan diri dengan melakukan aktivitas, menyapu lantai rumahnya. Suara asli Fajar, salah satu anak Wiji dan Sipon melantunkan musikalisasi puisi “Bunga dan Tembok” menjadi penutup film Istirahatlah Kata-Kata.

Istirahatlah Kata-Kata merupakan salah satu puisi Wiji Thukul yang dijadikan judul film garapan Yosep Anggi Noen. Kamis 19 Januari 2017 film ini mulai ditayangkan di 28 bioskop yang ada di 16 kota di Indonesia, seperti Jakarta, Tangerang, Bangdung, Semarang dan Pontianak. Film ini menceritakan pelarian Wiji Thukul, aktivis sekaligus penulis puisi perlawanan terhadap kekuasaan absolut Orde Baru.

Karena puisi-puisinya Wiji Thukul menjadi target pencarian orang alias buron yang dianggap mengganggu stabilitas negara. Dalam perburuan TNI dan polisi di bawah Rezim Orde Baru, Wiji Thukul sempat bersembunyi di Pontianak, Kalimantan Barat. Susah tidur, dibayang-bayangi derap sepatu tentara tak membuatnya berhenti menulis puisi. 

Bukan Film Pangeran Penyelamat Putri Cantik

Film bergenre drama biografi ini menggambarkan Wiji Thukul sebagai manusia. Ia punya rasa takut, rasa rindu pada keluarga, dan rasa humor saat bercengkrama dengan sahabat-sahabatnya. Tak ada adegan berdarah-darah, hanya dialog situasi politik yang memperkuat latar suasana (atmofer) saat itu.

Kaos lusuh selalu melekat di badan Wiji Thukul mulai film ini diputar hingga berakhir. Dalam pelarian, ia juga punya masalah dengan keuangan. Sehari-hari hidupnya ditopang dari para sahabat selama dalam pelarian.

“Jangan mengharapkan film ini menggambarkan Thukul yang heroik,” kata Wahyu Susilo, adik Wiji Thukul, ketika ditemui usai menonton penayangan perdana film Istirahatlah Kata-Kata di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (19/1).

Ia mengatakan sejak awal film ini untuk menunjukkan sisi manusiawi seorang Wiji Thukul, untuk mengetuk hati semua orang. “Bayangkan kita punya orang dekat, tapi hilang sampai sekarang,” katanya.  

Artikel lain: Jejak Wiji Thukul dalam Berita

Menurut Wahyu, hal yang perlu diapresiasi dalam film ini di antaranya aktor-aktor yang memerankan tokoh utama. Gunawan Maryanto dan Marissa Anita merupakan tokoh yang mampu menjiwai peran masing-masing sebagai Wiji Thukul dan Sipon. Padahal ketika peristiwa pergolakan politik itu terjadi, dua aktor ini masih belia. Selain itu untuk menghargai agar trauma keluarga tidak lagi muncul, Wahyu menyampaikan, Marissa Anita tak menemui istri Wiji Tukul, Sipon yang saat ini tinggal di Solo, hingga proses produksi selesai. “Ini pekerjaan anak muda untuk diapresiasi,” katanya.

Sampai saat ini keberadaan Wiji Thukul tak jelas rimbanya. Ia diperkirakan menghilang Mei 1998 saat puncak perlawanan terhadap rezim Soeharto. Entah sudah wafat atau masih hidup. 

“Film ini menjadi pesan bagi negara untuk menyelesaikan masalah HAM masa lalu. Terutama pelanggaran penghilangan paksa,” lanjut Wahyu. Ia mengaku bercakap terakhir dengan Wiji Thukul Januari 1998.

…Wiji Thukul masih belum juga bisa tertidur dengan lelap. Ia masih terbayang-bayang rumahnya digeledah, diawasi polisi, bukunya disita, dan isterinya diinterogasi. Tapi akhirnya ia bisa terlelap di bawah tangga setelah seorang temannya menyarankan minum tuak…

 

M. Irham

kali dilihat