Ancaman Perubahan Iklim di Ternate dan Hutan Tanaman Industri di Mentawai

Independen --- Perubahan iklim sangat dirasakan penduduk yang tinggal di pinggir pantai. Seperti yang terjadi di Pulau Ternate, Maluku Utara. Dalam 3 tahun terakhir, bibir pantai sudah tergerus sampai 4 meter. 

Abrasi pantai di kecamatan Ternate Barat ini disebabkan tidak hanya karena es di kutub mencair, tetapi juga proyek reklamasi pantai di bagian kota Ternate. Reklamasi ini dilakukan dengan mengorbankan penebangan kawasan mangrove. Dan sampai liputan di Kieraha.com ini dibuat, belum ada tindakan dari pemerintah kota Ternate. 

Liputan soal abrasi pantai di Ternate ini dapat dibaca lebih jauh di Dampak Perubahan Iklim Kian Mengancam Rumah Warga di Pulau Ternate

Sementara itu di ujung barat Indonesia, di Pulau Mentawai, masyarakat asli terancam mata pencahariannya sebagai petani ladang atau tinungglu (bahasa Mentawai). Mereka terancam karena masuknya perusahaan Biomas Andalan Energi yang berencana mengelola hutan tanaman industri di Mentawai. Kehadiran HTI ini diperkirakan akan menggunakan lahan-lahan yang selama ini dijadikan ladang oleh para petani. 

Beberapa tahun sebelumnya pemerintah pernah menjalankan program nasional yaitu mencetak sawah. Namun akhirnya kawasan sawah ini terbengkalai, karena tidak ada yang urus. Dan sekarang dimanfaatkan para petani ladang dengan ditanami pisang. 

Penduduk asli di Mentawai selama masa pandemi ini tidak pernah kekurangan pangan, karena dengan sistem tinungglu, memberikan kedaulatan pangan bagi mereka. Bagaimana nanti jika Hutan Tanaman Industri masuk, apakah penduduk asli ini masih memiliki kedaulatan pangan? Ikuti liputan MentawaiKita.com di: Tinungglu, Kearifan Lokal di Mentawai untuk Ketahanan Pangan 

(D02)

kali dilihat